PUISI

For you dear

This is a thousand of poem that I write for you.
But I still felt that I failed to explain,
How nice you are
How beauty you are
How your shadow closing my eyes
How your voice closing my ear
How your heart closing my mind
So I create the poem in my heart
The poem that created by rhyme of love
The poem that wrote by the tears of happiness
And the poem that can only be understood by you

Love from the deepest heart

If You Need

If ever you need me,
I’ll be right here,
To chase away the sadness,
And wipe away a tear.

If ever you need me,
I’ll be two steps behind,
To follow in your footsteps,
And hear what’s on your mind.

If ever you need me,
You’ll never have to fear,
That your presence isn’t important,
And your love isn’t dear.

If ever you need me,
I’ll always be around,
To bring back the laughter,
Where deep in your heart it’s found.

You’ll never have to worry,
For I’ll always be here,
To chase away the sadness,
And wipe away a tear.
I am here for you!

Heart, we will forget him

Heart, we will forget him,
You and I, tonight!
You must forget the warmth he gave,
I will forget the light.
When you have done pray tell me,
Then I, my thoughts, will dim.
Haste! ‘lest while you’re lagging
I may remember him!

Cerita Sedih

 

 

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain
saja.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga
Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan
membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu
menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal
dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi
semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya
mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya
pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang
sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya
tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar
hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak
kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah
perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi
yang mengingatnya.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti
sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari
betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas
kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore
itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad
dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah
memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis
saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari
hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya
tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan
Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap
sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10
tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus
menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega,
saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah,
namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan
yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis
setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji
kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan…
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”

 

http://www.resensi.net/kisah-cinta-seorang-anak/2008/05/

AKU HANYA MANUSIA

Sayup-sayup terdengar alunan syahdu bacaan ayat-ayat suci Al Quran dendangan ibu. Dengan mata yang baru terbuka separuh, aku menoleh ke arah jam di dinding. Dalam samar-samar cahaya lampu tidur aku mengagak… baru pukul empat lebih. Apahal pula ibu bangun membaca surat-surat Allah di kala orang lain dibuai mimpi? Belum pernah aku mendengar ibu membaca Al Quran walaupun pada siang hari. Apatah lagi pada pagi-pagi buta begini. Aku juga tidak pasti sama ada ibu mampu bertilawah dengan baik atau tidak. Aku bingkas bangun lalu membetulkan urat-urat badan.Sebaik-baik sahaja pintu bilik dibuka, aku ternampak Najib, adik bongsuku sedang mengulangkaji pelajaran agaknya di meja tulis comel diterangi lampu kecil. Rasa hairan bermain dalam dada… tak pernah si Najib ni “study” sebelum subuh. Selalunya dia berjaga sampai pukul dua baru masuk tidur. Apakah dia mendapat petua baru? Atau… adakah Ustaz Azman berpesan apa-apa?

Teringat aku sewaktu di tingkatan tiga dulu. Dalam satu perkhemahan pengakap, Ustaz Azman dijemput memberikan tazkirah selepas solat fardhu Maghrib berjemaah. Ada dia menyentuh tentang “study”. Dari situlah aku baru mengetahui masa terbaik untuk “study”, yang akan memudahkan hafalan, menyihatkan tubuh badan, mendatangkan hidayah dan barakah, mengilhamkan pemahaman serta lebih mendekatkan diri kepada Allah- pada dua pertiga malam iaitu antara pukul dua pagi hinggalah ke waktu subuh. Boleh jadi… Najib pun dah tahu.

Aku mengintai ke bilik ibu yang sememangnya tidak berpintu, hanya dihijab sehelai kain pintu berwarna hijau berbunga biru muda dan merah jambu. Ibu masih melagukan ayat-ayat Allah dengan nada suara sederhana. Ibu bertelekung! Sudah tentu ibu bangun solat malam. Peliknya! Sebelum ini ibu hanya solat Maghrib dan Isya’ saja, waktu-waktu lain tak berapa ambil berat.

Lebih pelik lagi… kulihat ayah dengan berketayap putih duduk bersila di tepi katil. Keadaannya seolah-olah orang sedang bertafakur. Mulutnya kumat-kamit. Kupasang telinga baik-baik, apalah agaknya yang ayah baca tu. Sesekali agak keras suaranya.

Subhanallah… ayah sedang mengkhatamkan zikir persediaan Naqsyabandiah. Selama inipun memang aku ada mengamalkannya sendiri-sendiri. Zikir itu kuperolehi sewaktu mempelajari ilmu perubatan Islam daripada Darus Syifa’ kelolaan Dr. Haron Din di universiti dulu. Daripada mana pula ayah memperolehinya? Setahu aku… ayah jarang-jarang solat. Berjemaah ke surau teramatlah jauhnya kecuali sewaktu Kak Ngah nak kahwin-sebab takut orang kampung tak datang gotong-royong masak. Lepas tu haram tak jejak kaki ke surau.

Aku beredar ke ruang tamu. Keriut bunyi lantai papan yang kupijak telah menyedarkan Shahrul, seorang lagi adik lelakiku. Lampu ruang tamu tak bertutup rupanya.

“Dah pukul berapa kak?”

“Emmm… dah empat lebih,”sahutku sambil melabuhkan punggung di atas kusyen.

Shahrul bangun dan terus ke bilik air. Tak lama kemudian dia masuk ke biliknya. Aku pasti dia sembahyang.

Apa dah jadi dengan rumah ni? Naik bingung seketika…

Aku rasa Shahrul terlena sewaktu membaca kerana ada sebuah buku di kusyen panjang tempat tidurnya tadi. Masih cantik sifat-sifat buku itu, mungkin baru dibeli. Kucuba membaca tajuknya… Perjuangan Wali Songo di Indonesia. Masyaallah, Shahrul boleh tertidur membaca buku tersebut? Aku yakin si Shahrul ni tak pernah baca buku-buku agama pun. Yang diminatinya tak lain itulah… majalah sukan, komik dan hiburan. Seribu satu macam pertanyaan berlegar dalam kepalaku.

Memang pernah ayah dan adik-adik bangun atau berjaga malam… untuk menonton perlawanan bola sepak. Tetapi kali ini mereka bangun untuk beribadah!

Sudah lebih lima tahun aku berusaha untuk menghidupkan roh Islam di rumah ini namun kejayaannya cuma secubit. Keluargaku tidak menunjukkan minat untuk membudayakan Islam dalam rumah kami. Kalau ayah dan ibu sendiri menentang, bagaimana dengan adik-adik? Kak Long Tikah dan Kak Ngah Ilah masing-masing telah berumahtangga, jadi… tak kisahlah. Namun ada keganjilan yang sukar kutafsir tika ini sedang berlaku di dalam rumah.

Selepas solat tahajjud aku terus berbaring. Lesu akibat perjalanan jauh masih terasa. Maklumlah, baru tengah malam semalam tiba dari Kota Jakarta, tempat kubekerja sebaik-baik sahaja lulus dari universiti.

Aku terjaga sekali lagi apabila deruman enjin motosikal menerjah gegendang telingaku. Kalau tak silap itu bunyi motosikal ayah. Motosikal mula bergerak lalu menuju ke jalan besar. Menurut di belakang adalah bunyi kayuhan basikal. Makin lama makin jauh.

“Ada… ooo Ada,” laung ibu sambil mengetuk pintu bilik.

“Ya mak,” sahut ku lemah.

“Bangun solat Subuh ye nak.”

“Ha’ah,” aku patuh.

“Mak… ayah pergi mana?” soalku ingin tahu.

“Ke surau dengan adik-adik… berjemaah.”

Alangkah indahnya suasana fajar kali ini. Inilah suasana waktu fajar yang telah lama kuimpikan. Selama beberapa tahun aku merindukan suasana ini… rindu pada kedamaian, rindu pada ketenangan, rindukan kesejahteraan dan juga kebahagiaan hidup berbudayakan roh Islam. Dulu, subuh-subuh begini hanya ada aku seorang… bersama Kekasih, kini sudah ramai… juga bersama Kekasih. Terasa rumahku yang selama ini suram mula bercahaya… telah ada jiwa…

@@@

Aku menolong ibu menyediakan sarapan di dapur. Rezeki kami pada hari itu adalah cempedak goreng. Ayah masih di bilik. Menurut ibu, ayah akan terus berzikir sehingga terbit matahari pada hari-hari cuti. Tidak ada seorangpun ahli keluarga yang berbaring atau tidur. Semua ada aktiviti masing-masing selepas solat Subuh. Bukankah tidur selepas Subuh itu membawa kemiskinan, penyakit, malas dan lain-lain kesan negatif?

Shahrul dan Najib berada di bahagian belakang rumah yang sememangnya agak luas. Pada mulanya aku berasa janggal melihat mereka bersiap-siap. Apabila kutanya jawab mereka “nak riadah, ayah suruh”. Bukankah sebelum ini mereka kaki tidur nombor satu? Kalau hari cuti, dah tentu pukul sepuluh ke atas baru bangun. Lepas bangun menonton televisyen. Tengah hari baru mandi. Sekarang sudah berbeza benar.

Sesekali aku menjenguk mereka melalui tingkap dapur. Kalau tadinya mereka terkejar-kejar berlari anak keliling rumah, kini mereka berkuntau pula. Memang budak-budak berdua ni aktif dalam persatuan silat di sekolah, tapi tak pernah pula mereka berlatih pada waktu pagi. Bergomol dan berkunci-kuncian sampai basah kena air embun di rumput. Ini rupanya riadah mereka. Eloklah… memang digalakkan Islam.

Pagi itu kami menghadap sarapan secara berjemaah, semua ada. Ayah sendiri yang membaca doa beserta maksudnya sekali. Amboi, hebat juga ayah kami ni! Aku mengingatkan adik-adik supaya selalu menyebut nama Allah di dalam hati sepanjang masa makan. Mak dan ayah mengiyakan kata-kataku itu. Seronok rasanya mendapat sokongan mak dan ayah. Sebelum ini kalau aku menegur adik-adik tentang agama, cepat benar muka mereka berubah. Namun Allah Yang Maha Merancang bisa mengubah segalanya. Syukur.

Ayah ke pasar bersama Shahrul sementara Najib pergi ke rumah kawannya Hafiz untuk meminjamkan kaset kumpulan nasyid Raihan dan Diwani. Peluang ini kuambil untuk mengorek cerita daripada ibu.

“Mak, Ada rasa seronok balik kali ini.”

“Iyelah, dah dekat setahun Ada tak balik… tentulah seronok,” balas ibu sambil tersenyum.

“Ada rasa kan mak, rumah kita ni dah ada roh… tak macam dulu…”

Ibu tidak terus menjawab apa-apa. Dia menarik nafas panjang. Kepalanya didongakkan ke dinding, menatap sebuah lukisan pemandangan yang cantik hadiah daripada menantunya Zamri, suami Kak Long. Lukisan itu adalah hasil tangan Abang Zamri sendiri

“Ini semua kerja Allah Ada. Mak sedar Ada sentiasa cuba merubah cara hidup keluarga kita… supaya kita berpegang dengan budaya Islam. Kami pandang remeh aje segala saranan dan teguran Ada.”

Ibu mengalihkan pandangannya ke arahku. “Itulah… kalau Allah nak ubah, siapapun tak sangka.”

“Apa dah jadi Mak?” soalku lebih serius.

“Abang Zamri Ada tu le… bukan sebarangan orang. Dalam diam-diam dia mendakwahkan budaya hidup Islam kat kita. Memanglah mulanya tu kami buat tak tahu… dia berjemaah ke surau ke, dia baca Quran ke, berzikir ke, cara dia berpakaian ke, apa ke di rumah kita ni.”

Memang kuakui Abang Zamri lain daripada yang lain. Sejak mula berkahwin dengan Kak Long lagi jelas perawakannya yang mulia. Gerak lakunya sopan. Tidak pernah meninggi diri.Tidak bergurau berlebih-lebihan. Hormat kepada orang tua. Mengasihi adik-adik. Kalau berbicara dengannya, dia tidak pernah lari daripada berbicara tentang Islam. Dia seolah-olah tidak terpengaruh dengan keseronokan dunia. Tidak ada perkara lain yang dicintainya selain daripada berjuang untuk Islam.

Abang Zamri jarang sangat pernah bercerita tentang kereta mewah, rumah besar, duit banyak, pangkat tinggi, perempuan cantik, muzik, filem, bolasepak, para artis, pakaian cantik dan lain-lain sedangkan semua itu diperkatakan sehari-hari dalam keluarga kami. Sememangnya dia ada kelebihan yang dikurniakan Allah SWT. Entahlah apa yang telah dibuatnya hingga keluarga kami berubah. Ingin kutanya pada ibu tapi… tunggulah nanti, apabila ada masa yang sesuai, insyaallah.

@@@

“Mak, Ayah, Shahrul dan Najib pergi ke rumah mak mertua Kak Long Ada… rumah keluarga Abang Zamri…”

“Mak ke Terengganu?” soalku.

“Iye, cuti penggal sekolah hari tukan Ada tak balik… kami pergi le ziarah besan kami.”

“Habis tu… apa yang jadi?”

Ibu terus bercerita dengan anjang lebar sambil kami melipat kain baju. Menurut ibu, keluarga Abang Zamri bukanlah orang senang. Adik-beradiknya seramai sembilan orang. Namun corak kehidupan mereka sungguh aman bahagia dan tenang Banyak perkara baru yang ibu dan ayah pelajari selama lima hari berada di sana.

Waktu tiba di kampung halaman Abang Zamri, keluarga kami disambut meriah dan penuh hormat. Gembira sungguh mereka menerima tetamu. Masing-masing dengan wajah ceria dan menampakkan ketenangan. Adik-adik Abang Zamri semua mencium tangan ibu dan ayah sementara Shahrul dan Najib dipeluk seolah-olah kawan lama. Ayah dan ibu agak terkejut dengan situasi tersebut kerana sebelum ini anak-anak sendiri pun susah nak cium tangan.

Rumah mereka bersih walaupun tidak mewah. Begitu juga dengan halamannya yang terjaga. Irama nasyid, bacaan al Quran, zikir munajat dan ceramah agama silih berganti kedengaran daripada radio kaset mereka. kalau di rumah kami tu, dari padi sampai ke malam dipenuhi dengan lagu-lagu artis tempatan dan luar negara.

Waktu Subuh sangat indah di sana. Sejak jam empat pagi lagi rumah itu telah dipenuhi dengan ibadah-ibadah sunat. Ada yang bertilawah, ada yang berzikir, ada yang solat dan sebagainya. Kemudian, yang lelakinya beramai-ramai solat fardhu Subh berjemaah ke masjid. Oleh kerana malu-malu alah, Ayah pun terpaksalah bangun dan pergi ke masjid sekali.

Dari awal pagi lagi keluarga Abang Zamri yang lelakinya turun ke pantai yang nampak dari rumah mereka. Mereka duduk mengelilingi Pak Luqman, bapa kepada Abang Zamri untuk mendengar tazkirah pendek. Kemudian adik-adik Abang Zamri yang kecil berlari-lari anak dalam satu barisan sepanjang pantai. Abang Zamri dan bapanya pula membasahkan tubuh dengan air embun yang diambil daripada pokok-pokok kayu. Tujuannya untuk menjaga kekuatan badan. Ayah hanya tersengih apabila dipelawa oleh Pakcik Luqman. Begitulah rutinnya setiap pagi selama ayah dan ibu berada di sana.

Waktu bersarapan tiba. Semua isi rumah ada, tidaklah seperti rumah kami- sarapan sendiri-sendiri. Mereka menghadap makanan dengan wajah yang manis, dimulakan dengan doa. Alangkah mesranya hubungan sesama mereka. Terasa suatu perasaan tenang yang sukar digambarkan. Sepanjnag masa makan, mereka banyak berbucara tentang kebesaran Allah dan nikmat-nikmat-Nya. Ayah dan ibu terpaksa bermuka-muka kerana tak tahu apa yang nak dicakapkan. Nak menyampuk… takut tak kena pula jalannya.

Selepas mengemaskan rumah secara bergotong-royong, adik-adik Abang Zamri berkumpul di serambi rumah. Mereka disertai oleh dua tiga orang anak-anak jiran. Rupanya mereka berlatih nasyid, siap dengan genderangnya sekali. Mereka mendendangkan lagu-lagu nasyid popular dan juga lagu ciptaan mereka sendiri. Sura mereka yang berharmoni indah bergema sampailah ke tengah hari. Kata emak Abang Zamri, kumpulan nasyid budah-budak itu sering menerima jemputan di sekitar daerah. Selama lima hari di sana, ibu sudah jatuh cinta dengan irama nasyid. Boleh dikatakan setiap album nasyid terbaru mesti dibelinya selepas itu. Dulu, ibu bukan main lagi… dengan karaoke dangdutnya yang terdengar sampai ke tengahjalan. Tentu ibu malu kalau terkenangkannya.

Kononnya hubungan Pakcik Luqman dengan isterinya sangat baik… macam baru berkahwin. Mereka selalu tersenyum dan bergurau, malah nampak malu-malu walaupun sudah tua. Kalau duduk tu… mesti nak rapat-rapat. Isterinya pun bukan main taat lagi kepada suami. Mungkin inilah yang membuatkan ibu dan ayah terasa sangat. Al maklumlah, mereka di rumah memang tak ampak mesra. Bergurau jarang, bertegang leher selalu. Benda kecil pun nak bertekak. Ayah balik dari luar pun tak pernah ibu sambut. Masing-masing dengan hal sendiri. Berbincang hal agama… jauh sekali.

Pelbagai pengalaman baru yang ibu dan ayah dapat di Terengganu. Agaknya mereka telah menemui formula keluarga bahagia… dan mahu mempraktikkannya dalam keluarga kami. Alangkah indahnya keluargaku kini…alangkah sayangnya Allah kepada keluargaku…aku bersyukur kepada-Mu ya Allah.

“Eh, Ada dengar ke apa yang Mak ceritakan ni?” soal ibu apabila melihat aku tersenyum mengelamun.

“Eh… mmm…dengar Mak”, jawabku serba salah.

“Mak sebenarnya berkenan pulak dengan sepupu Abang Zamri di terengganu yang ama Shahrul tu…”

“Alah mak ni… nak cerita pasal kahwin le tu”, cetusku lalu segera beredar ke dapur.

Guru

“Guru Sejati adalah seseorang yang mempunyai kunci untuk menjadikan Anda sebagai seorang Guru,….. menolong Anda agar menyadari bahwa diri Anda juga seorang Guru Sejati, bahwa Anda dan Tuhan adalah Satu. Itulah misi atau tugas seorang Guru Sejati.”

“Kita harus menemukan seorang Guru Sejati, karena Beliau sahabat Tuhan; Beliau akan membawa kita menghadap Tuhan dan memperkenalkan kita kepadaNya dengan berkata: “Ini murid saya, teman saya.””

” Ketika saya berceramah, bukan badan saya yang berbicara, tetapi Buddha, Bodhisattva atau Guru Nurani saya yang memberi khotbah.”

“Guru adalah kebijaksanaan dalam diri kita yang serba-bisa, Kebijaksanaan yang tak terhingga, Kualitas rohani kita yang memancarkan cahaya yang tak terbatas oleh ruang dan waktu; mengingat kepadaNya, maka kita tidak akan takut kepada apapun.”

“Guru Sejati yang bersemayam di dalam diri kita, tidak pernah meninggalkan kita, kita harus bersandar kepadaNya, Ia adalah majikan kita, diri kita yang sejati, jati-diri kita.”

“Jika kita dapat mematuhi seorang Guru Sejati, menuruti setiap petunjukNya, mengerjakan dan mempelajari, itulah pahala yang terbesar, sama dengan kita bersembah sujud kepada para Buddha dari tiga kurun waktu dan sepuluh penjuru.”

“Selama Anda tulus dan mengingat Ajaran Guru, itu adalah penghormatan yang terbaik.”

“Pada waktu Anda berbicara dengan orang lain, janganlah memikirkan bahwa Anda yang melakukannya. Mohon kekuatan Guru dalam diri Anda, dan Anda akan terkejut bahwa Anda dapat berbicara dengan bijaksana, indah dan penuh kebajikan yang belum pernah Anda ketahui sebelumnya. Itulah caranya untuk menjadi Guru.”

“Ketika Anda mengasihi seorang guru yang tercerahkan, sifat-sifat baik Beliau akan menjadi milik Anda. Berkah Beliau akan dilimpahkan kepada Anda. Anda akan menjadi lebih cerdas, tenteram dan bijak.”

“Guru Sejati adalah seseorang yang mempunyai kunci untuk menjadikan Anda sebagai seorang Guru,….. menolong Anda agar menyadari bahwa diri Anda juga seorang Guru Sejati, bahwa Anda dan Tuhan adalah Satu. Itulah misi atau tugas seorang Guru Sejati.”

“Kita harus menemukan seorang Guru Sejati, karena Beliau sahabat Tuhan; Beliau akan membawa kita menghadap Tuhan dan memperkenalkan kita kepadaNya dengan berkata: “Ini murid saya, teman saya.””

” Ketika saya berceramah, bukan badan saya yang berbicara, tetapi Buddha, Bodhisattva atau Guru Nurani saya yang memberi khotbah.”

“Guru adalah kebijaksanaan dalam diri kita yang serba-bisa, Kebijaksanaan yang tak terhingga, Kualitas rohani kita yang memancarkan cahaya yang tak terbatas oleh ruang dan waktu; mengingat kepadaNya, maka kita tidak akan takut kepada apapun.”

“Guru Sejati yang bersemayam di dalam diri kita, tidak pernah meninggalkan kita, kita harus bersandar kepadaNya, Ia adalah majikan kita, diri kita yang sejati, jati-diri kita.”

“Jika kita dapat mematuhi seorang Guru Sejati, menuruti setiap petunjukNya, mengerjakan dan mempelajari, itulah pahala yang terbesar, sama dengan kita bersembah sujud kepada para Buddha dari tiga kurun waktu dan sepuluh penjuru.”

“Selama Anda tulus dan mengingat Ajaran Guru, itu adalah penghormatan yang terbaik.”

“Pada waktu Anda berbicara dengan orang lain, janganlah memikirkan bahwa Anda yang melakukannya. Mohon kekuatan Guru dalam diri Anda, dan Anda akan terkejut bahwa Anda dapat berbicara dengan bijaksana, indah dan penuh kebajikan yang belum pernah Anda ketahui sebelumnya. Itulah caranya untuk menjadi Guru.”

“Ketika Anda mengasihi seorang guru yang tercerahkan, sifat-sifat baik Beliau akan menjadi milik Anda. Berkah Beliau akan dilimpahkan kepada Anda. Anda akan menjadi lebih cerdas, tenteram dan bijak.”

“Guru Sejati adalah seseorang yang mempunyai kunci untuk menjadikan Anda sebagai seorang Guru,….. menolong Anda agar menyadari bahwa diri Anda juga seorang Guru Sejati, bahwa Anda dan Tuhan adalah Satu. Itulah misi atau tugas seorang Guru Sejati.”

“Kita harus menemukan seorang Guru Sejati, karena Beliau sahabat Tuhan; Beliau akan membawa kita menghadap Tuhan dan memperkenalkan kita kepadaNya dengan berkata: “Ini murid saya, teman saya.””

” Ketika saya berceramah, bukan badan saya yang berbicara, tetapi Buddha, Bodhisattva atau Guru Nurani saya yang memberi khotbah.”

“Guru adalah kebijaksanaan dalam diri kita yang serba-bisa, Kebijaksanaan yang tak terhingga, Kualitas rohani kita yang memancarkan cahaya yang tak terbatas oleh ruang dan waktu; mengingat kepadaNya, maka kita tidak akan takut kepada apapun.”

“Guru Sejati yang bersemayam di dalam diri kita, tidak pernah meninggalkan kita, kita harus bersandar kepadaNya, Ia adalah majikan kita, diri kita yang sejati, jati-diri kita.”

“Jika kita dapat mematuhi seorang Guru Sejati, menuruti setiap petunjukNya, mengerjakan dan mempelajari, itulah pahala yang terbesar, sama dengan kita bersembah sujud kepada para Buddha dari tiga kurun waktu dan sepuluh penjuru.”

“Selama Anda tulus dan mengingat Ajaran Guru, itu adalah penghormatan yang terbaik.”

“Pada waktu Anda berbicara dengan orang lain, janganlah memikirkan bahwa Anda yang melakukannya. Mohon kekuatan Guru dalam diri Anda, dan Anda akan terkejut bahwa Anda dapat berbicara dengan bijaksana, indah dan penuh kebajikan yang belum pernah Anda ketahui sebelumnya. Itulah caranya untuk menjadi Guru.”

“Ketika Anda mengasihi seorang guru yang tercerahkan, sifat-sifat baik Beliau akan menjadi milik Anda. Berkah Beliau akan dilimpahkan kepada Anda. Anda akan menjadi lebih cerdas, tenteram dan bijak.”

Kumpulan Cerita Lucu

Murid SD Dengan Gurunya

Anto yang duduk dibangku SD ditanya Bu Fanny, Gurunya

Bu Fanny : Anto, ada 5 bebek yang lagi mencari makan disawah. Kalo ditembak pemburu,

kena satu yang tinggal berapa ?

Setelah berpikir sejenak, si Anto menjawab “Ga ada sisanya bu ”

Bu Fanny bertanya “kenapa ga ada sisanya ?”

Si Anto menjawab” yang lain terbang semua karena kaget”

Bu Fanny tersenyum bijak dan berkata “yah, sebetulnya bukan itu jawabannya. tapi saya suka cara

berpikir kamu ”

 

Si Anto tidak mau kalah ” boleh saya yang tanya bu guru ?”

Bu Fanny ” boleh”

Si Anto ” ada tiga wanita makan eskrim, satu makanya dikunyah2, yang satu digigit2 dan yg terakhir dijilat2. pertanyaannya wanita mana yang sudah menikah ?”

Tanpa berpikir panjang Bu Fanny menjawab ” sudah pasti yang menjilat2 eskrimnya”

Si Anto senyum2 dan berkata ” sebetulnya yang sudah menikah yang menggunakan cincin kawin bu……. tapi saya suka cara berpikir ibu “

 

Kebiasaan Makan di Pesawat

Kebiasaan makan dipesawat terbang …….

Bila selesai makan, garpu dan sendok :

1. disilangkan = penumpang dari Amerika

2. sejajar = penumpang dari benua Eropa

3. Sejajar diluar piring = penumpang dari Jepang

4. hilang = penumpang dari Indonesia

<!–

–>

Posted by Raja_Solu in Umum on November 26th, 2010
12,779 views
No Comments »

Kamu mengaku saja

Seorang guru Sejarah memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya,
“Anak-anak, siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945?”
Murid-murid semua diam seribu bahasa. Karena hingga menjelang usai jam pelajaran belum satu murid pun menjawab, sang guru marah dan akhirnya menghukum seluruh muridnya berjemur di lapangan upacara hingga sore hari. Salah seorang murid tersebut, sebut saja Anto, tiba di rumah dengan menangis tersedu-sedu. Ayahnya yang keheranan bertanya,
“To, kenapa kamu? Berkelahi?”
Anto menjawab, “Bukan Pak, tapi kami dihukum jemur oleh pak Guru.” Ayahnya bertanya lagi, “Kenapa sampai dihukum?”
Anto menjawab, “Kami tidak menjawab siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945, pak” Tiba-tiba muka sang Ayah merah padam dan menampar anaknya itu sembari menghardik,
“Kenapa tidak mengaku saja kamu yang menulisnya!!!”

<!–

–>

Indonesia tetep canggih

Dalam rapat perkembangan teknologi abad-21, ada utusan dari indonesia, jepang dan amerika. Amerika melihatkan kemajuan teknologinya.
Saat ada telpon masuk, Amerika tidak lagi menggunakan hp, tapi memegang kancing bajunya dan berbicara.
Orang Indonesia heran “Wuih gila loe yach, bisa kayak gitu”
Orang jepang langsung nyeletuk, “Wach punyaku lebih gila lagi nich….”dan kemudian dengan jari jempol dan kelinking orang jepang itu menelpon rekannya, ck..ck…’ memang gila nich…,”kata orang indonesia itu dengan rasa kagumnya. akhirnya orang indonesia ini bingung, apa yang akan ditunjukkan kepada kedua rekannya itu. tiba-tiba orang indonesia ini menggetarkan badannya dan matanya merem melek. orang amrik dan jepang bingung, lantas bertanya,” hi..hi… kamu sedang ngapain…..”
“Hus diam !!! fax sedang masuk nich….!!!” kata orang indonesia

<!–

–>

Hitam segalanya

Alkisah di negara Afrika sana, manusia yang paling hitam adalah yang paling hebat! Hitam dalam arti hitam segala-galanya, itulah Negro Sejati! Ada 3 orang anak kecil yang sedang membandingkan kehitaman Bapaknya.
Anak yang ke 1 : ” Babe gue kemarin sedang ngupas Apel, eh..tangannya
terluka, DARAH nya HITAM!!!!…
Anak yang ke 2 : “Papi ku kemarin sedang benerin Parabola,eh..terjatuh
sampai patah tulang, TULANG nya HITAM !!!”
Anak yang ke 3, nggak mau kalah hebat : “Hm.. itu belum seberapa,tadi
malam waktu kami sedang nonton TV diruang keluarga, tiba-tiba Bokap
gua KENTUT, …..e-eh,…tiba tiba seluruh ruangan jadi GELAP !!!!!!”

Sumber : http://cerita-humor.info/murid-sd-dengan-gurunya/#more-1107

 

Ibu

Kau tetap ada di sana…
memberiku isyarat untuk tetap bertahan

Ibu…kau basuh kesedihanku, kehampaanku dan ketidakberdayaanku
“Tiada lain kita hanya insan Sang Kuasa,
Memiliki tugas di bumi tuk menegakkan kalimatNya
Kita adalah jasad, jiwa, dan ruh yang terpadu
Untuk memberi arti bagi diri dan yang lain”
Kata-katamu laksana embun di padang gersang nuraniku
memberiku setitik cahaya dalam kekalutan berfikirku
Kau labuhkan hatimu untukku, dengan tulus tak berpamrih

Kusandarkan diriku di bahumu
Terasa…kelembutanmu menembus dinding-dinding kalbuku
Menghancurleburkan segala keangkuhan diri
Meluluhkan semua kelelahan dan beban dunia
Dan membiarkannya tenang terhanyut bersama kedalaman hatimu

Kutatap perlahan…
matamu yang membiaskan ketegaran dan perlindungan
Kristal-kristal lembut yang sedang bermain di bola matamu,
jatuh…setetes demi setetes
Kau biarkan ia menari di atas kain kerudungmu
Laksana oase di terik panasnya gurun sahara

Ibu…
Nasihatmu memberi kekuatan untukku
rangkulanmu menjadi penyangga kerapuhanku
untuk ,menapaki hari-hari penuh liku
…semoga semua itu tak akan pernah layu!

Ibu…
Dalam kelembutan cintamu, kulihat kekuatan
dalam tangis air matamu, kulihat semangat menggelora
dalam dirimu, terkumpul seluruh daya dunia!

Oleh: -Habib Berkelana-

KATA KATA MUTIARA

Koleksi kata-kata mutiara persahabatan

 

Jika Tuhan menciptakan pelangi tuk mengindahkan langit, maka Tuhan menciptakan sahabat tuk keindahan hidupmu.

Jangan terlalu tergantung pd orang lain, bahkan sahabatpun tak akan selalu ada untukmu. Jadilah pribadi yg MANDIRI. -= kata-kata mutiara =-

Sahabat adalah seseorang yg selalu membuat hatimu bahagia. Sahabat selalu membuat hidup jauh lebih menyenangkan.

Sahabat sejati memberikan waktu disaat tawa hadir, ataupun dikala air mata mengalir. -= kata-kata mutiara =-

Sahabat adalah dia yg tahu kekuranganmu, tapi menunjukkan kelebihanmu. Dia yg tahu ketakutanmu, tapi menunjukkan keberanianmu.

Ketika keadaan mengharuskan untuk menangis, tak usah berpura, menangislah. Tak semua air mata berarti lemah. -= kata-kata mutiara =-

Mereka yang terus hidup penuh dengan kekerasan hati akan membawa kedalam kehidupan yang tidak mensejahterakan.

Jgn hitung brp kali org menyakiti & meninggalkanmu, tp brp kali kau menyakiti Tuhan & Ia tdk prnh meninggalkanmu -= kata-kata mutiara =-

Sahabat adalah mereka yg tahu semua kekuranganmu, namun tetap memilih bersamamu ketika orang lain meninggalkanmu.

Tak peduli siapa yg buatmu patah hati atau berapa lama yg dibutuhkan tuk sembuh, kamu tak akan bisa melewatinya tanpa sahabat! -= kata-kata mutiara =-

Sahabat adalah dia yg tahu apa yg dia miliki ketika bersamamu, bukan dia yg menyadari siapa dirimu setelah dia kehilanganmu.

Saat kau membalas kebencian dgn amarah & caci maki, saat itulah musuhmu menang. -= kata-kata mutiara =-

Jangan pernah sakiti sahabatmu, karena sahabat adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa Dia tak ingin kamu sendirian jalani hidup.

Orang hadir di hidupmu karena sebuah alasan. Mereka berimu bahagia dan kecewa. Ada yg sesaat, tapi ada yg selamanya, SAHABATMU. -= kata-kata mutiara =-

Sahabat bukan mereka yg menghampirimu ketika butuh, namun mereka yg tetap bersamamu ketika seluruh dunia menjauh.

Sahabat adalah mereka yg tahu bahwa ada sedih di matamu ketika seluruh dunia percaya dengan senyum di wajahmu.

Bersedih dengan orang yg tepat lebih baik daripada berbahagia dengan orang yg salah. Bijaklah dlm memilih sahabat. -= kata-kata mutiara =-

Tak ada yg sempurna, sahabatpun pernah berbuat salah, tapi kamu selalu temukan sebuah alasan tuk maafkan mereka.

Indahnya persahabatan adalah saat kita memberi tak mengharapkan balasan. Ada tawa saat dalam kesedihan. -= kata-kata mutiara =-

Sahabat itu seperti BINTANG, dia memang tak selalu terlihat, tapi kamu tahu dia selalu ada di sana.

Terlalu berharap akan menyakitimu, namun itu bukan alasan tuk menyesali diri. Ingat, sahabat selalu ada untukmu.

Kenalilah sahabat yang disamping kamu. Sahabat ialah yang mengulurkan pelukan ketika kamu terjatuh. -= kata-kata mutiara =-

Sahabat adalah mereka yang mampu mengeluarkan kemampuan terbaik yg ada dalam diri kamu. Mereka yg selalu berimu semangat.